Malang, 10 September 2026 – Kebakaran kembali menjadi ancaman bagi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah titik api dilaporkan muncul di sekitar Savana Pengol, salah satu kawasan padang rumput di wilayah Bromo. Kemunculan api menjadi perhatian karena terjadi tidak lama setelah rangkaian kebakaran besar di kawasan TNBTS berhasil dikendalikan. Vegetasi yang sangat kering akibat musim kemarau membuat api berpotensi menjalar dengan cepat apabila tidak segera ditangani. Petugas melakukan pemantauan sekaligus penanganan untuk mencegah titik api berkembang menuju kawasan savana yang lebih luas. Kondisi angin dan ketersediaan material kering di permukaan tanah menjadi faktor yang terus diperhatikan selama proses pengendalian. Luas area yang terdampak dari kemunculan titik api terbaru masih memerlukan pemetaan dan verifikasi lapangan.
Savana Pengol merupakan salah satu bagian kawasan Bromo yang memiliki vegetasi padang rumput dan menjadi wilayah rawan kebakaran ketika musim kemarau mencapai puncaknya. Rumput, semak, serasah, dan vegetasi lain yang mengering dapat menjadi bahan bakar sehingga api dengan mudah berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Situasi semakin sulit apabila angin bertiup cukup kencang karena bara dapat terbawa menuju area yang sebelumnya belum terbakar. Petugas karena itu tidak hanya berfokus memadamkan nyala yang terlihat, tetapi juga melakukan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat bara tersembunyi. Pembasahan pada area tertentu diperlukan untuk mengurangi kemungkinan api kembali muncul setelah pemadaman awal. Pola penanganan tersebut sebelumnya juga diterapkan ketika kebakaran melanda sejumlah blok lain di kawasan Bromo.
Kewaspadaan tinggi dilakukan karena kawasan TNBTS baru saja melewati periode kebakaran yang berlangsung sejak akhir Agustus 2026. Kebakaran yang dimulai pada 26 Agustus tersebut melanda wilayah konservasi dalam skala besar sebelum akhirnya berhasil dikendalikan pada 6 September. Berdasarkan pendataan penanganan, area terdampak mencapai sekitar 1.807 hektare. Hujan ringan yang turun di kawasan TNBTS ikut membantu proses pengendalian setelah berbagai metode pemadaman sebelumnya dilakukan. Operasi modifikasi cuaca juga sempat dijalankan pada 4 September sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan kebakaran. Setelah api dinyatakan terkendali, petugas tetap melakukan pemantauan karena kemungkinan penyalaan kembali masih ada selama vegetasi berada dalam kondisi sangat kering.
Kemunculan titik api di Savana Pengol memperlihatkan bahwa berakhirnya satu operasi pemadaman belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran di Bromo. Area bekas terbakar maupun kawasan di sekitarnya masih harus diawasi sampai kondisi cuaca berubah dan kelembapan vegetasi meningkat. Dalam kebakaran sebelumnya, petugas beberapa kali menghadapi situasi ketika api yang sempat melemah kembali membesar akibat angin dan material mudah terbakar. Kontur Bromo yang terdiri atas perbukitan, lembah, serta lereng curam juga membuat tidak semua titik dapat dicapai kendaraan pemadam. Personel darat terkadang harus berjalan menuju lokasi dengan membawa perlengkapan pemadaman manual. Situasi tersebut menyebabkan kecepatan deteksi menjadi sangat penting agar api dapat ditangani ketika cakupannya masih terbatas.
Sepanjang musim kemarau 2026, kawasan Bromo telah beberapa kali menghadapi kebakaran dengan skala yang cukup luas. Kebakaran besar pada awal Agustus sebelumnya bahkan berdampak pada ratusan hektare kawasan setelah api bergerak dari perbukitan menuju vegetasi savana. Pada 9 Agustus, luas kawasan terdampak ketika itu telah mencapai sekitar 520 hektare dan penanganan terus dilakukan dalam beberapa hari berikutnya. Operasi melibatkan petugas taman nasional, unsur penanggulangan kebakaran hutan, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat maupun udara karena beberapa lokasi berada pada medan yang sulit dijangkau. Rangkaian kejadian tersebut membuat pengelola kawasan meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan untuk mendeteksi titik api baru sedini mungkin.
Pemadaman kebakaran Bromo juga pernah menggunakan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang berada pada lereng terjal. Dalam operasi sebelumnya, armada udara membawa air dan menjatuhkannya langsung pada lokasi yang sulit dicapai personel darat. Drone water spray juga pernah dikerahkan untuk membantu proses pemadaman, sementara tim di darat menggunakan truk pemadam, sprayer, jet shooter, dan metode manual. Pemilihan metode bergantung pada lokasi api, kondisi angin, kontur medan, dan ketersediaan sumber air. Pada area yang relatif mudah dijangkau, petugas dapat melakukan pembasahan langsung dan membuat batas untuk memperlambat penjalaran. Namun, pada perbukitan dengan kemiringan ekstrem, keselamatan personel menjadi pertimbangan utama sebelum pemadaman dilakukan.
Risiko kebakaran yang masih tinggi membuat Balai Besar TNBTS mengambil langkah pencegahan tambahan dengan menghentikan sementara seluruh izin kegiatan syuting dan penyelenggaraan acara di dalam kawasan. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 7 September 2026 dan belum ditentukan batas akhirnya karena akan menyesuaikan perkembangan cuaca serta tingkat kerawanan kebakaran. Penggunaan peralatan kelistrikan, bahan bakar, dan berbagai aktivitas yang melibatkan banyak orang dinilai dapat meningkatkan potensi munculnya sumber api ketika vegetasi sedang sangat kering. Pengelola kawasan menempatkan keselamatan pengunjung dan perlindungan ekosistem sebagai pertimbangan utama. Setiap aktivitas yang berpotensi menghasilkan api juga mendapat perhatian lebih ketat. Masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi seluruh ketentuan selama kondisi rawan kebakaran masih berlangsung.
Penyebab setiap kemunculan api tidak dapat langsung disimpulkan sebelum pemeriksaan dilakukan. Faktor manusia menjadi salah satu kemungkinan yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan karhutla, tetapi kondisi cuaca kering juga membuat sumber panas berukuran kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar. Dalam rangkaian kebakaran sebelumnya, aparat kehutanan telah melakukan penyelidikan dengan melibatkan ahli untuk memeriksa kondisi tanah dan dampak kerusakan lingkungan. Sampel dari kawasan terdampak diambil untuk membantu mengetahui karakter kebakaran sekaligus mendukung proses penegakan hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran. Pendekatan tersebut diperlukan karena TNBTS merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem penting dan membutuhkan perlindungan khusus. Kerusakan akibat kebakaran tidak hanya dihitung berdasarkan luas lahan, tetapi juga dampaknya terhadap vegetasi, satwa, tanah, dan proses pemulihan ekosistem.
Savana Bromo memiliki karakter yang membuat perubahan setelah kebakaran dapat terlihat sangat cepat, tetapi pemulihan ekologis sebenarnya membutuhkan proses lebih panjang. Rumput dapat kembali tumbuh setelah hujan, sementara tanaman tertentu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Kebakaran berulang pada lokasi yang sama berpotensi mengubah struktur vegetasi dan mengganggu habitat berbagai jenis satwa. Lapisan tanah juga dapat mengalami perubahan apabila intensitas panas terlalu tinggi atau kebakaran berlangsung lama. Karena itu, petugas berusaha mencegah titik api kecil berkembang menjadi kebakaran luas melalui patroli dan respons cepat. Pemantauan pascakebakaran juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kawasan serta menentukan langkah rehabilitasi apabila diperlukan.
Kemunculan titik api di Savana Pengol menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran Bromo masih belum berakhir meskipun kebakaran besar sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Kondisi kemarau dan vegetasi yang kering membuat pengelola kawasan harus mempertahankan kesiapsiagaan sampai risiko kebakaran menurun secara signifikan. Petugas akan terus melakukan pemantauan, penyisiran, dan penanganan pada lokasi yang menunjukkan indikasi asap maupun api. Masyarakat di sekitar kawasan serta pengunjung juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan percikan api, membuang puntung rokok sembarangan, atau menggunakan peralatan berisiko memicu kebakaran. Penanganan cepat terhadap titik api di Savana Pengol diharapkan mampu mencegah terulangnya kebakaran luas seperti yang terjadi sepanjang Agustus hingga awal September. Fokus utama saat ini adalah memastikan api benar-benar terkendali sekaligus menjaga kawasan konservasi Bromo tetap aman dari kemungkinan penyalaan kembali.