Jakarta, 25 Mei 2026 – Sekitar 200 hektar kawasan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah Rejang Lebong dilaporkan mengalami perambahan dan diduga dialihfungsikan menjadi perkebunan kopi. Kondisi tersebut memicu perhatian berbagai pihak karena kawasan TNKS merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang memiliki fungsi ekologis besar sebagai habitat satwa liar dan penyangga lingkungan. Aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan konservasi disebut telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir dan mulai terlihat semakin luas dari pemantauan lapangan. Pengamat lingkungan menilai alih fungsi hutan menjadi perkebunan dapat menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem apabila tidak segera ditangani. Selain mengancam kelestarian hutan, perambahan juga berpotensi meningkatkan risiko longsor, banjir, dan kerusakan sumber mata air di kawasan sekitar.
TNKS sendiri dikenal sebagai salah satu taman nasional terbesar di Indonesia yang membentang di beberapa provinsi di Pulau Sumatera dan menjadi habitat penting berbagai satwa langka seperti harimau Sumatera, gajah, dan beruang madu. Pengamat konservasi menjelaskan bahwa tekanan terhadap kawasan hutan konservasi terus meningkat akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian. Dalam beberapa kasus, tingginya nilai ekonomi komoditas seperti kopi membuat sebagian masyarakat membuka lahan baru hingga masuk ke area yang seharusnya dilindungi. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, pengawasan terhadap kawasan konservasi dinilai perlu diperkuat agar kerusakan hutan tidak semakin meluas.
Aktivitas perkebunan kopi di kawasan pegunungan memang cukup berkembang di sejumlah wilayah Sumatera karena kondisi tanah dan iklim yang mendukung. Namun pengamat kehutanan menegaskan bahwa pembukaan lahan di kawasan taman nasional tetap melanggar aturan dan berpotensi merusak keseimbangan ekosistem jangka panjang. Selain menyebabkan hilangnya tutupan hutan, perambahan juga dapat memutus jalur habitat satwa liar sehingga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan hewan. Dalam beberapa tahun terakhir, isu perambahan kawasan konservasi memang semakin menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan krisis lingkungan dan perubahan iklim. Pemerintah daerah dan aparat terkait disebut perlu melakukan langkah tegas sekaligus pendekatan sosial untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut.
Di sisi lain, pengamat sosial menjelaskan bahwa persoalan perambahan hutan sering kali berkaitan dengan faktor ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Sebagian warga membuka lahan karena keterbatasan akses ekonomi dan tingginya ketergantungan terhadap sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama. Oleh sebab itu, penanganan perambahan dinilai tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga perlu dibarengi solusi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Program pertanian berkelanjutan, pengembangan lahan legal, dan edukasi lingkungan disebut dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi. Banyak pihak berharap pendekatan yang dilakukan mampu menjaga kelestarian hutan tanpa mengabaikan kebutuhan hidup masyarakat sekitar.
Kasus perambahan sekitar 200 hektar kawasan TNKS di Rejang Lebong kembali memperlihatkan besarnya tantangan menjaga kawasan konservasi di tengah kebutuhan ekonomi dan tingginya nilai komoditas perkebunan. Banyak pengamat menilai perlindungan hutan kini menjadi isu yang semakin penting karena berkaitan langsung dengan keseimbangan lingkungan, ketersediaan air, dan keberlangsungan habitat satwa liar. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan alam, kawasan konservasi seperti TNKS memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem Pulau Sumatera. Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan kerusakan hutan sekaligus mencari solusi jangka panjang bagi warga sekitar kawasan. Dengan pengawasan yang lebih kuat dan pendekatan yang berkelanjutan, kelestarian kawasan TNKS diharapkan tetap terjaga untuk generasi mendatang.