Semarang, 5 September 2026 – Pemerintah Kota Semarang memperpanjang penyelenggaraan Festival Kota Lama (FKL) XV 2026 menjadi 17 hari untuk menyambut ribuan peserta dan pendamping Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI. Festival yang sebelumnya direncanakan berlangsung selama 11 hari kini digelar mulai 4 hingga 20 September 2026, sehingga waktunya beririsan dengan pelaksanaan MTQ Nasional pada 11–20 September. Perpanjangan tersebut diharapkan memberikan kesempatan kepada para kafilah dari berbagai provinsi untuk menikmati kawasan Kota Lama di sela rangkaian kompetisi. Pemerintah daerah juga ingin memanfaatkan momentum kedatangan tamu dalam jumlah besar untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif Kota Semarang. Festival tahun ini mengusung tema “Unity in Diversity” dengan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan masyarakat hingga penampil dari luar negeri. Rangkaian tersebut sekaligus menjadi salah satu agenda pendukung untuk memeriahkan Semarang sebagai tuan rumah MTQ Nasional ke-31.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyatakan dukungan terhadap keputusan memperpanjang Festival Kota Lama karena bertepatan dengan momentum besar tingkat nasional. Ia menilai kedatangan peserta MTQ beserta pendamping dan keluarga dapat memberikan dampak ekonomi lebih luas apabila dihubungkan dengan berbagai agenda pariwisata. Sekitar 7.000 orang diperkirakan datang sebagai bagian dari kafilah MTQ, sedangkan jumlah keseluruhan pengunjung dapat mencapai 10.000 hingga 15.000 orang setelah memperhitungkan keluarga dan pendamping. Jumlah tersebut memberikan peluang bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, perdagangan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Semarang. Pemerintah ingin para tamu tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal destinasi dan kehidupan budaya kota. Kota Lama dipilih sebagai salah satu ruang utama karena kawasan tersebut merupakan ikon wisata sejarah yang memiliki daya tarik kuat bagi pengunjung.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan jadwal MTQ Nasional yang cukup padat menjadi salah satu pertimbangan memperpanjang festival. Pemerintah kota tidak ingin para peserta kehilangan kesempatan menikmati Festival Kota Lama hanya karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mengikuti rangkaian MTQ. Dengan periode penyelenggaraan yang lebih panjang, para kafilah dapat memilih waktu kunjungan sesuai agenda masing-masing. Festival juga dirancang sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya yang sejalan dengan karakter Kota Lama sebagai kawasan yang sejak dahulu berkembang melalui interaksi masyarakat dengan latar belakang berbeda. Tema “Unity in Diversity” kemudian digunakan untuk menegaskan pesan mengenai keberagaman tersebut. Melalui festival, Semarang ingin menunjukkan bahwa perbedaan budaya dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan karya, membuka peluang ekonomi, dan memperluas hubungan antarmasyarakat.
Festival Kota Lama XV resmi dibuka pada Jumat malam, 4 September 2026, di depan Gedung Yayasan Kanisius, Jalan Letjen Suprapto. Pembukaan tersebut menjadi awal dari rangkaian panjang pertunjukan yang tersebar hingga 20 September. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari mengatakan durasi kegiatan memang sengaja ditambah agar peserta MTQ Nasional memiliki kesempatan lebih besar menikmati Semarang dari sisi berbeda. Berbagai kegiatan tidak hanya berpusat pada pertunjukan musik, tetapi mencakup seni tradisional, kuliner, aktivitas komunitas, wisata sejarah, hingga kegiatan edukasi. Pemilihan lokasi di kawasan heritage juga dimaksudkan untuk menghidupkan ruang publik sekaligus memperkenalkan bangunan-bangunan bersejarah kepada pengunjung. Dengan konsep tersebut, festival diharapkan menjadi pengalaman wisata yang lebih lengkap daripada sekadar panggung hiburan.
Salah satu agenda yang kembali menjadi daya tarik adalah Pasar Malam Sentiling yang berlangsung pada 4–13 September di kawasan Metro Point. Kegiatan tersebut menghadirkan suasana kuliner sekaligus ruang interaksi bagi pengunjung yang datang ke Kota Lama pada sore hingga malam hari. Festival juga menampilkan Orchestra on the Street and Dance pada 5 September di fasad Gedung Yayasan Kanisius, disusul sejumlah pertunjukan musik lainnya. Jazz Kota Lama dijadwalkan berlangsung pada 6 September, sementara kegiatan Gowes Semarang Heritage digelar untuk mengajak peserta menjelajahi kawasan bersejarah menggunakan sepeda. Perpaduan antara musik, kuliner, olahraga, dan wisata heritage dirancang agar festival dapat menjangkau kelompok pengunjung yang lebih beragam. Masyarakat lokal maupun wisatawan dapat memilih kegiatan sesuai minat tanpa harus mengikuti seluruh rangkaian festival.
Unsur tradisi mendapatkan porsi besar dalam Festival Kota Lama tahun ini, termasuk melalui kegiatan yang mengenalkan keterampilan budaya kepada generasi muda. Salah satunya adalah seni merangkai janur yang memungkinkan anak-anak belajar membuat ketupat, bentuk burung-burungan, serta berbagai hiasan tradisional untuk upacara pernikahan. Peserta tidak hanya diajarkan cara membuat kerajinan tersebut, tetapi juga diperkenalkan pada makna yang terkandung di balik setiap bentuk. Pemerintah kota menilai kegiatan seperti ini penting karena sejumlah keterampilan tradisional semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Festival kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan kembali generasi muda dengan pengetahuan budaya yang diwariskan masyarakat. Upaya tersebut sekaligus membuat kegiatan pelestarian budaya berlangsung dengan cara yang interaktif dan dapat dinikmati pengunjung.
Agenda lain yang dipersiapkan adalah Festival Folklore Kota Lama pada 18–19 September dengan berbagai penampilan seni budaya. Kegiatan tersebut berada pada periode yang sama dengan berlangsungnya MTQ Nasional sehingga diharapkan dapat dikunjungi peserta dan pendamping yang sedang berada di Semarang. Pada 19 September, kawasan Kota Lama juga akan diramaikan dengan kegiatan 1.000 Angklung Berkebaya di fasad Gedung Marba. Pertunjukan tersebut menggabungkan alat musik tradisional angklung dengan penggunaan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Penampil dari luar negeri juga dijadwalkan hadir sehingga festival mempunyai dimensi pertukaran budaya yang lebih luas. Rangkaian acara kemudian berlanjut hingga 20 September dengan Festival Melukis Payung sebagai salah satu kegiatan penutup.
Perpanjangan Festival Kota Lama juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperbesar dampak ekonomi penyelenggaraan MTQ Nasional. Kedatangan ribuan orang dalam waktu bersamaan menciptakan peningkatan kebutuhan terhadap penginapan, makanan, transportasi, oleh-oleh, serta berbagai produk ekonomi kreatif. Pelaku UMKM mempunyai kesempatan memanfaatkan peningkatan jumlah pengunjung tersebut untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produknya kepada konsumen dari berbagai daerah. Wisatawan yang menikmati festival juga diharapkan mengunjungi destinasi lain sehingga perputaran ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai integrasi antara kegiatan nasional dengan agenda pariwisata lokal dapat memperpanjang waktu tinggal pengunjung. Semakin lama wisatawan berada di Semarang, potensi belanja dan dampak ekonomi terhadap masyarakat juga dapat semakin besar.
MTQ Nasional XXXI sendiri dijadwalkan berlangsung pada 11 hingga 20 September 2026 dengan Kota Semarang menjadi pusat utama penyelenggaraan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang telah mempersiapkan venue pertandingan, transportasi, akomodasi, pendamping kafilah, serta berbagai kegiatan pendukung. Lapangan Pancasila Simpang Lima menjadi salah satu kawasan yang dipersiapkan untuk agenda utama, sementara perlombaan akan berlangsung di sejumlah lokasi. Selain Festival Kota Lama, pemerintah daerah menyiapkan berbagai kegiatan lain seperti festival rebana, kaligrafi, peragaan busana, mini Dugderan, khataman Al-Quran, kegiatan kebersihan masjid, bursa kerja, dan seminar nasional. Beragam agenda tersebut dirancang agar penyelenggaraan MTQ tidak hanya berpusat pada kompetisi membaca dan memahami Al-Quran. Semarang diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berkesan kepada seluruh peserta selama berada di Jawa Tengah.
Penyelenggaraan Festival Kota Lama hingga 20 September membuat agenda budaya tersebut berakhir bersamaan dengan periode penutupan MTQ Nasional XXXI. Pemerintah Kota Semarang berharap perpanjangan dari 11 menjadi 17 hari dapat meningkatkan kunjungan sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat, wisatawan, peserta MTQ, komunitas, dan pelaku usaha untuk berinteraksi. Kawasan Kota Lama akan menjadi salah satu etalase utama Semarang dalam memperkenalkan identitas kota kepada ribuan tamu dari seluruh Indonesia. Rangkaian seni, budaya, kuliner, dan kegiatan heritage juga diharapkan memberikan dampak yang tidak berhenti setelah festival selesai. Pemerintah ingin momentum MTQ Nasional dapat memperkuat promosi wisata Semarang dan mendorong pengunjung kembali datang pada kesempatan berikutnya. Dengan menggabungkan perhelatan keagamaan tingkat nasional dan festival budaya, Semarang berupaya menunjukkan keberagaman sebagai kekuatan yang dapat menggerakkan pariwisata sekaligus ekonomi masyarakat.