Jakarta, 15 September 2026 – Munculnya batuk, sakit tenggorokan, pilek, hingga sesak napas ketika kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda dapat membuat masyarakat kesulitan membedakan penyebab keluhan tersebut. Sebagian gejala akibat paparan asap memang dapat menyerupai infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus. Namun, terdapat beberapa karakteristik yang dapat diperhatikan, mulai dari munculnya demam, iritasi mata, waktu timbulnya keluhan, hingga perubahan gejala setelah seseorang menjauh dari lingkungan berasap. Paparan asap karhutla terutama menimbulkan iritasi karena udara mengandung berbagai gas dan partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara penyakit akibat virus terjadi karena infeksi sehingga dapat disertai respons tubuh yang lebih sistemik. Meski demikian, pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila keluhan berat atau penyebabnya sulit dibedakan.
Salah satu petunjuk yang dapat diperhatikan adalah keberadaan demam. Infeksi virus seperti influenza dapat menyebabkan demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, batuk, dan sakit tenggorokan. Keluhan dapat berkembang setelah virus menginfeksi tubuh dan memicu respons sistem kekebalan. Sebaliknya, paparan asap karhutla pada umumnya tidak secara langsung menyebabkan demam. Keluhan yang lebih sering muncul adalah mata perih, hidung dan tenggorokan teriritasi, batuk, serta rasa tidak nyaman ketika bernapas. Karena itu, demam yang jelas dan disertai nyeri tubuh dapat lebih mengarah pada proses infeksi, meskipun tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
Iritasi pada mata dapat menjadi petunjuk lain yang cukup mudah dikenali pada paparan asap. Partikel dan senyawa dalam asap dapat menyebabkan mata terasa perih, berair, merah, atau seperti terkena debu. Hidung juga dapat terasa tidak nyaman dan tenggorokan menjadi kering setelah seseorang berada cukup lama di luar ruangan ketika kualitas udara buruk. Gejala tersebut dapat muncul relatif cepat selama atau setelah paparan. Pada sebagian orang, keluhan dapat berkurang setelah berpindah ke ruangan dengan udara lebih bersih. Pola hubungan yang cukup jelas antara paparan dan timbulnya keluhan dapat membantu memperkirakan apakah asap berperan sebagai pemicu.
Infeksi virus biasanya tidak memiliki hubungan langsung dengan keberadaan seseorang di kawasan berasap. Gejala dapat terus berlangsung meskipun penderita telah berada di dalam ruangan dengan kualitas udara lebih baik. Keluhan juga dapat berkembang secara bertahap selama beberapa hari sesuai perjalanan penyakit. Selain gejala pernapasan, penderita dapat mengalami penurunan nafsu makan, tubuh terasa lemah, sakit kepala, atau nyeri pada seluruh tubuh. Beberapa virus juga dapat menyebabkan gejala pencernaan pada sebagian pasien. Riwayat kontak dengan anggota keluarga, teman, atau rekan kerja yang sedang mengalami penyakit serupa dapat menjadi informasi tambahan ketika menentukan kemungkinan penyebab.
Asap karhutla mengandung particulate matter atau partikel berukuran sangat kecil yang menjadi salah satu komponen utama pencemaran udara. Partikel halus dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan ketika terhirup. Paparan dapat memperburuk kondisi pada orang dengan asma, penyakit paru kronis, maupun gangguan jantung. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Pada kelompok rentan, paparan yang terlihat ringan bagi orang sehat dapat menyebabkan keluhan yang lebih nyata. Karena itu, perlindungan terhadap asap tetap penting meskipun seseorang tidak mengalami infeksi.
Batuk juga dapat muncul pada kedua kondisi sehingga karakteristik tersebut tidak cukup untuk menentukan penyebab. Pada paparan asap, batuk dapat terjadi karena saluran pernapasan mengalami iritasi dan tubuh berusaha merespons partikel yang masuk. Batuk dapat disertai tenggorokan kering atau rasa mengganjal dan cenderung memburuk ketika kembali berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk. Pada infeksi virus, batuk dapat berkembang bersama pilek, demam, sakit tenggorokan, atau gejala sistemik lainnya. Bahkan setelah infeksi membaik, batuk pada sebagian orang dapat bertahan lebih lama karena saluran pernapasan masih sensitif. Karena itu, keseluruhan pola gejala lebih penting daripada menilai batuk secara terpisah.
Seseorang juga dapat mengalami infeksi virus dan paparan asap secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat membuat gejala lebih sulit dibedakan karena saluran pernapasan yang sedang mengalami infeksi juga terpapar polutan. Asap dapat memperburuk batuk atau rasa tidak nyaman yang sebelumnya sudah muncul akibat penyakit. Karena itu, masyarakat yang sedang sakit tetap dianjurkan mengurangi paparan ketika kualitas udara berada pada tingkat buruk. Berada di dalam ruangan dengan udara lebih bersih dapat membantu mengurangi tambahan iritasi. Pemantauan kondisi tetap diperlukan karena memburuknya gejala tidak selalu hanya disebabkan oleh salah satu faktor.
Upaya perlindungan dapat dilakukan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap tinggi. Pintu dan jendela dapat ditutup apabila udara luar sangat tercemar, sementara kualitas udara dalam ruangan perlu dijaga sebisa mungkin. Apabila seseorang harus keluar, masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel dan terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi karena seseorang akan bernapas lebih cepat dan menghirup udara dalam jumlah lebih banyak. Setelah kembali dari kawasan berasap, membersihkan wajah dan mengganti pakaian dapat membantu mengurangi partikel yang terbawa. Masyarakat juga dapat mengikuti informasi kualitas udara untuk menentukan aktivitas yang lebih aman.
Pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda apabila seseorang mengalami sesak napas yang semakin berat, nyeri dada, kebingungan, bibir tampak kebiruan, atau kesulitan melakukan aktivitas karena gangguan pernapasan. Demam yang menetap atau kondisi tubuh yang terus memburuk juga perlu mendapatkan evaluasi. Orang dengan asma atau penyakit paru lainnya perlu memperhatikan apabila obat yang biasanya digunakan tidak lagi mampu mengendalikan keluhan. Anak-anak dan lansia dapat mengalami perubahan kondisi lebih cepat sehingga pengawasan perlu dilakukan lebih ketat. Tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah keluhan berkaitan dengan infeksi, paparan asap, atau kombinasi keduanya. Diagnosis menjadi penting karena penanganan yang diperlukan dapat berbeda.
Perbedaan utama antara sakit akibat virus dan paparan asap karhutla pada akhirnya dapat dilihat dari keseluruhan pola keluhan dan riwayat paparan. Demam, menggigil, nyeri tubuh, serta gejala yang terus berkembang meskipun berada di udara bersih lebih sering ditemukan pada infeksi virus. Sementara mata perih, tenggorokan kering, batuk, dan keluhan yang memburuk ketika berada di lingkungan berasap lebih mendukung adanya iritasi akibat polusi udara. Namun, gejala kedua kondisi dapat saling tumpang tindih sehingga tidak selalu dapat dibedakan sendiri di rumah. Menghindari paparan asap, menjaga kondisi tubuh, serta memperhatikan perkembangan gejala menjadi langkah penting selama periode karhutla. Jika keluhan berat, menetap, atau menimbulkan kesulitan bernapas, pemeriksaan tenaga kesehatan menjadi pilihan yang lebih aman untuk memastikan penyebabnya.