Jakarta, 20 September 2026 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat aksi pemadaman lampu selama 60 menit pada Sabtu malam, 19 September 2026, berhasil mengurangi emisi karbon sebesar 74,23 ton CO2 ekuivalen. Kegiatan tersebut dilakukan serentak di sejumlah gedung pemerintahan, fasilitas publik, jalan protokol, hingga bangunan komersial sebagai bagian dari kampanye penghematan energi. Pemadaman berlangsung mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan pelayanan masyarakat. Selain menekan emisi karbon, kegiatan tersebut menghasilkan penghematan konsumsi listrik dalam jumlah cukup besar. Pemerintah daerah menilai aksi satu jam itu menjadi pengingat bahwa perubahan sederhana dalam penggunaan energi dapat memberikan dampak lingkungan apabila dilakukan secara bersama-sama.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat konsumsi listrik selama pelaksanaan kegiatan turun sekitar 106,03 megawatt hour (MWh). Penurunan tersebut setara dengan penghematan biaya listrik sekitar Rp152,91 juta. Angka itu diperoleh dengan membandingkan konsumsi energi sebelum dan selama pelaksanaan pemadaman lampu. Dari pengurangan penggunaan listrik tersebut, emisi karbon yang berhasil ditekan diperkirakan mencapai 74,23 ton CO2 ekuivalen. Hasil tersebut menunjukkan hubungan langsung antara pengurangan konsumsi listrik dengan penurunan emisi dari aktivitas energi. Pemprov DKI berharap kegiatan serupa dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan energi secara efisien.
Pemadaman lampu dilakukan di berbagai titik strategis yang selama ini menjadi ikon maupun pusat aktivitas Jakarta. Sejumlah bangunan milik pemerintah, gedung swasta, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, dan fasilitas lainnya ikut berpartisipasi. Lampu dekoratif serta penerangan yang tidak berkaitan langsung dengan keselamatan menjadi bagian utama yang dipadamkan selama satu jam. Sementara penerangan untuk kebutuhan vital, pelayanan publik, dan keselamatan tetap dipertahankan. Pendekatan tersebut memungkinkan penghematan energi dilakukan tanpa mengganggu aktivitas penting masyarakat. Partisipasi berbagai pihak menjadi unsur utama karena dampak penghematan akan semakin besar apabila gerakan dilakukan secara luas.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar memadamkan lampu selama satu jam. Gerakan itu diarahkan untuk membangun kebiasaan masyarakat agar lebih bijak menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan lampu, pendingin ruangan, perangkat elektronik, dan peralatan lain secara efisien dapat membantu mengurangi konsumsi listrik dalam jangka panjang. Kebiasaan mematikan perangkat ketika tidak digunakan juga menjadi langkah sederhana yang dapat diterapkan tanpa membutuhkan biaya tambahan. Pemerintah ingin pesan penghematan energi tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Aksi simbolis tersebut diharapkan berkembang menjadi perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten.
Pengurangan konsumsi energi memiliki keterkaitan dengan upaya Jakarta menekan emisi gas rumah kaca. Sebagai kota dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas yang tinggi, kebutuhan energi Jakarta juga relatif besar. Pemakaian listrik pada bangunan menjadi salah satu komponen yang diperhitungkan dalam strategi pengendalian emisi perkotaan. Efisiensi energi karena itu menjadi salah satu pendekatan yang dapat dilakukan bersama dengan pengembangan transportasi rendah emisi, peningkatan ruang hijau, serta pengelolaan lingkungan lainnya. Pemadaman lampu selama satu jam memang hanya menghasilkan pengurangan emisi dalam periode terbatas. Namun, pemerintah menilai nilai utamanya terletak pada peningkatan kesadaran mengenai penggunaan energi yang lebih bertanggung jawab.
Pemprov DKI juga terus mendorong keterlibatan pengelola gedung dan pelaku usaha dalam penerapan efisiensi energi. Gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan kawasan komersial mempunyai potensi penghematan besar karena menggunakan listrik dalam jumlah tinggi setiap hari. Penggunaan teknologi pencahayaan hemat energi, pengaturan pendingin ruangan, serta manajemen konsumsi listrik dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dibandingkan aksi sesaat. Evaluasi penggunaan energi juga dapat membantu pengelola bangunan mengetahui bagian yang paling banyak mengonsumsi listrik. Langkah tersebut dapat diterapkan tanpa harus mengurangi kenyamanan maupun produktivitas penghuni gedung apabila direncanakan secara tepat. Kampanye pemadaman lampu menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan prinsip tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain manfaat lingkungan, penghematan listrik juga memberikan dampak ekonomi yang dapat dihitung secara langsung. Nilai penghematan sekitar Rp152,91 juta hanya dalam waktu satu jam menunjukkan besarnya konsumsi energi ketika berbagai fasilitas beroperasi secara bersamaan. Jika kebiasaan efisiensi diterapkan secara rutin, potensi penghematan dalam periode yang lebih panjang dapat menjadi lebih besar. Rumah tangga dapat berpartisipasi melalui langkah sederhana seperti mematikan lampu pada ruangan kosong, mencabut perangkat yang tidak digunakan, serta memilih peralatan dengan konsumsi energi lebih rendah. Pelaku usaha dapat melakukan hal serupa dalam skala yang lebih besar melalui sistem pengelolaan energi. Dengan demikian, manfaat penghematan tidak hanya berkaitan dengan penurunan emisi, tetapi juga efisiensi pengeluaran listrik.
Pemerintah Jakarta menempatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dalam menghadapi persoalan lingkungan perkotaan. Perubahan iklim, kualitas udara, kebutuhan energi, serta peningkatan aktivitas ekonomi merupakan persoalan yang saling berkaitan. Kebijakan pemerintah membutuhkan dukungan perilaku masyarakat agar dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Aksi pemadaman lampu menjadi salah satu bentuk kampanye yang mudah dipahami karena masyarakat dapat melihat perubahan kondisi kota secara langsung selama kegiatan berlangsung. Pemerintah juga berharap sekolah, komunitas, perusahaan, dan pengelola kawasan semakin aktif menjalankan program efisiensi energi secara mandiri. Keterlibatan berbagai kelompok dinilai dapat memperluas dampak kampanye melampaui kegiatan yang diselenggarakan pemerintah.
Catatan pengurangan emisi sebesar 74,23 ton CO2 ekuivalen dari pemadaman selama 60 menit menjadi gambaran mengenai besarnya potensi efisiensi energi di Jakarta. Penghematan 106,03 MWh sekaligus menunjukkan bahwa perubahan penggunaan listrik secara serentak dapat menghasilkan dampak yang terukur dalam waktu singkat. Tantangan berikutnya adalah menjadikan kebiasaan hemat energi sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan hanya ketika kampanye berlangsung. Pemerintah daerah terus mendorong masyarakat menggunakan listrik sesuai kebutuhan dan mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan. Jika dilakukan secara konsisten oleh rumah tangga, gedung pemerintahan, dan sektor komersial, efisiensi energi dapat membantu menekan biaya sekaligus mendukung target pengurangan emisi Jakarta. Aksi selama satu jam tersebut pada akhirnya diharapkan menjadi pemicu perubahan perilaku yang bertahan jauh lebih lama.